Mengenai Saya

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Dosen, pengamat dan pengkaji seni pertunjukan, budaya, dan komunikasi.

Pengikut

Sabtu, 14 November 2009

EKSPRESI TEATER KONTEMPORER INDONESIA (Catatan dari The First Invitation To Theatre)

Oleh 
Jaeni B. Wastap


Tidak mudah untuk menyebutkan kecenderungan bentuk, mengkategorikan gaya dan memperiodisasikan zaman dari suatu rentetan kreativitas seni dalam jagat teater. Namun pada situasi ini dibutuhkan keberanian bagi kelompok atau bangsa untuk menunjukkan identitasnya agar tidak dicap sebagai peniru, penduplikasi, atau pembajak karya-karya budaya kelompok atau bangsa lain. Begitupun dengan kehidupan teater Indonesia. 
Lewat ajang The First Invitation To Theatre (29/9 – 3/10 - 2009), jurusan teater STSI Bandung mencoba me-review jagat teater nasional dengan mengundang beberapa kelompok teater yang mewakili kehidupan teater modern Indonesia. Pulau Sumatera diwakili oleh kelompok Teater Satu Lampung; Jawa Tengah diwakili oleh Teater Ruang Solo; Jakarta diwakili oleh Teater Kami; dan Bandung diwakili oleh Kelompok Teater Payung Hitam dan Actors Unlimited.

Keragaman Ekspresi Pertunjukan
Penampilan lima kelompok dalam The First Invitation To Theatre memberikan indikasi bahwa teater Indonesia saat ini memiliki keragaman, baik secara artistik maupun estetik. Ini sebuah fakta yang tidak bisa ditolak oleh pengamat seni maupun budayawan, bahwa ranah seni pertunjukan (teater) kita memiliki difersitas ekspresi yang sangat tinggi.
Kelompok Teater Payung Hitam yang mewakili Bandung menyajikan ”PUISI TUBUH YANG RUNTUH”, karya/sutradara Rachman Sabur. Kelompok ini mencoba membumikan gagasan teaternya dengan mengambil idiomatik lokal, meminjam wujud topeng Cirebon untuk mengejawantahkan nilai-nilai eksistensi manusia dalam puitika pertunjukan; Tubuh itu tanah // Tubuh itu air // Tubuh itu // Tubuh tanah air. Kehadiran enam karakter topeng (panji, pamindo, rumyang, tumenggung, klana, dan jingga anom) dalam pertunjukannya mengisyaratkan proses hidup dan nilai-nilai kemanusiaan. Pertunjukan ini menitikberatkan pada gerak-gerak tubuh para aktornya sesuai karakter topeng yang dipakai dengan balutan artistik yang sangat sederhana. 
Berbeda dengan kelompok teater Actors Unlimited Bandung yang menampilkan “IBU PEMBERANI DAN ANAK-ANAKNYA YANG MATI”, karya Bertolt Brecht yang disadur secara bebas oleh Fathul A. Husein sebagai sutradara. Kelompok teater ini menampilkan sebuah karya pertunjukan teater yang akademis dan konvensional. Pertunjukannya sendiri nyaris tak bersinggungan dengan konteks kultur keindonesiaan, namun lebih mementingkan perwujudan bentuk dan artistik pertunjukan yang dikawal oleh dialog-dialog verbal naskah asing. Hal ini dapat kita lihat dari lakon pertunjukannya yang membicarakan tentang ”Perang adalah bisnis”. Perang adalah sebuah keberlangsungan bisnis dalam cara-cara yang lain. Komitmen Ibu Pemberani sendiri untuk berbisnis dalam perang adalah sesuatu yang harus ia bayar mahal dengan kematian anak-anaknya.
Sementara kelompok Teater Satu Lampung menyajikan lakon ”ARUK GUGAT”, karya/sutradara Iswadi Pratama. Pertunjukan kelompok teater ini betul-betul menyatu dengan kultur asalnya. Apa yang dipersembahkan oleh kelompok teater ini merupakan upaya penggalian idiomatik seni pertunjukan warahan sebagai bentuk teater tutur Lampung. Ada kesadaran yang tinggi dari kelompok teater ini untuk menunjukkan kehidupan teater kontemporer Indonesia, sekalipun idiomatiknya dieksplorasi dari lokalitas namun upaya pemodernan pertunjukan tetap diupayakan dengan mengidentifikasi peran/tokoh, karakterisasi, artistik, dan aktualitas cerita. Unsur-unsur artistik yang dibangun oleh kelompok Teater Satu Lampung masih setia dengan gaya artistik “sandiwara kampong” yang mempertahankan kesederhanaan bentuk. Begitupun dengan plot dan karakterisasi tokoh utamanya yang sterotif. Unsur artistik dan estetik serta gagasan pertunjukan kelompok teater Satu Lampung sengaja diniatkan untuk bisa meladeni segala bentuk ruang dan bisa dimainkan di mana saja dan kapan saja. Lakon ARUK GUGAT yang ditampilkannya merupakan sebuah upaya untuk memeriksa kembali “ke-kampung-an”, kesederhanaan, dan “ke-naif-an” yang ada dalam lingkungan sosial, sistem politik, budaya, dan terutama dalam kultur masyarakat dengan berbagai latar belakang yang ada pada lingkungannya.
Selanjutnya, penampilan dari kelompok Teater Ruang Solo melalui repertoar pertunjukan ”KETAWANG BAJINGAN!”, karya/sutradara Joko Bibit Santoso. Kelompok ini mempertunjukan tubuh para aktornya sebagai media umpatan, sarkasme atas apa yang terjadi pada masyarkat Indonesia saat ini, termasuk juga umpatan terhadap jagat teater. Pertunjukannya dimaksudkan sebagai bentuk perlawanan budaya atas pemanjaan yang semakin tidak disadari oleh manusia dengan banyak hadirnya teknologi dalam kehidupan manusia. Alasan inilah yang membuat tubuh menjadi rapuh dan memiliki daya tahan yang pendek. Pentas dengan pemaksimalan penjelajahan potensi tubuh dari teater Ruang Solo ini menghasilkan bentuk dan gerak yang estetik, mistik dan subtil. Namun pentas ini betul-betul menampikkan kehadiran teknologi. Tata lampu yang dalam perkembangan teater dijadikan polesan visual sekaligus penciptaan karakter pertunjukan, digantikan dengan kehadiran lampu blencong, sehingga realitas pertunjukan menjadi gelap dan sesak serta mengganggu penikmatan gerak-gerak tubuh yang tersajikan. Namun hal itulah yang tersaji, bahwa Teater Ruang Solo adalah perlawanan budaya atau umpatan kebudayaan sebagaimana KETAWANG BAJINGAN!
Penampilan terakhir diwakili oleh kelompok Teater Kami Jakarta yang membawakan ”GEGERUNGAN”, karya/sutradara Harris Priadie Bah. Pertunjukan ini sangat instropektif, terutama bagi para penggiat teater yang dihadapkan pada kondisi saat ini. Suatu pertanyaan besar ketika teater dihadapkan pada bagaimana memberikan keberartian bagi dirinya sendiri sebelum memberikan keberartian bagi kehidupan yang lebih luas. Hal itu nyata terjadi ketika dalam lakon Gegerungan diceritakan tentang idealisme penggiat teater yang diyakini sebagai harga mati tidak berbanding lurus dengan penghasilan ekonomi yang didapatnya. Profesi sebagai sutradara atau aktor teater tidak membawa kebahagiaan bagi keluarganya. Puncak kegentingan dari ketakberdayaan menghadapi kondisi tersebut menghadapkan mereka pada situasi gegerungan. Gegerungan dalam bahasa Betawi adalah tangisan pilu dengan suara meraung-raung. Pertunjukan kelompok teater Kami begitu kontekstual dengan kondisi masyarakat Jakarta yang dikepung oleh kekuatan ekonomi. Pada sisi yang hampir mirip, situasi dalam lakon itu menyelimuti kehidupan yang dihadapi oleh aktor dan sutradara dalam suatu kelompok teater. 

Catatan Teater Kontemporer
Keragaman ekspresi teater kontemporer Indonesia yang diwakili oleh lima kelompok menyisakan catatan yang bisa dianggap sebagai suatu kritik. Pertama, mengacu pada makna kontemporer itu sendiri yang bersinggungan dengan masyarakat kekinian. Karena pertunjukan teater itu harus dapat berkomunikasi dengan publiknya yang kontemporer tadi, maka “durasi” pementasan menjadi penting, mengingat ada orientasi waktu yang berbeda antara publik teater dulu dan sekarang. Dulu, konsep waktu pertunjukan teater yang bisa dinikmati (well made play) sekitar 2 jam. Tetapi sekarang, konsep well made play tersebut bisa berubah menjadi 1,5 jam karena akselerasi kehidupan sekarang yang berbeda dengan masyarakat dulu. Kedua, mengacu pada makna/pesan yang berhubungan dengan representasi teater kontemporer Indonesia. Representasi merupakan pengejawantahan masyarakat atas lebenswelt (penghayatan makna hidup) - meminjam istilah Habermas - ke dalam bentuk seni pertunjukan teater yang diteropong pada zamannya. Untuk hal itulah, permasalahan-permasalahan yang diangkat oleh teater kontemporer Indonesia perlu mengedepankan permasalahan-permasalahan yang ada bagi publik Indonesia, baik untuk kepentingan lokal maupun global. Hal lain yang tentu saja tidak kalah penting adalah masalah artistik dan estetik yang semua itu melewati proses kreatif yang tidak instan. Seyogyanya masalah-masalah artistik dan estetik itu harus “dibumikan” dengan perspektif “timur”.
Akhirnya, memang tidak mudah untuk menerima catatan yang telah disebutkan, tapi itulah kenyataan atas pertunjukan-pertunjukan teater kontemporer Indonesia saat ini. Teater, terus berproses, kreatif, dan menginspirasi publiknya untuk menjadi manusia yang utuh. 

Memahami “The Making of Theatre”: KASUS TRANSFORMASI IDENTITAS BENTUK TEATER PAYUNG HITAM

Oleh : Jaeni B. Wastap

Perjalanan sebuah kelompok teater akan selalu mengalami proses dialektika sebagai wujud transformasi identitas hingga ia memiliki karakteristik dan mainstream sendiri sebagai identitasnya. Hal ini dialami oleh Kelompok Teater Payung Hitam Bandung, yang dikomandani oleh Rachman Sabur selama 20 tahunan lebih. Pergulatan pertunjukan teaternya tidak saja menjadi apresiasi lokal, namun nasional dan bahkan menjelajah ke wilayah internasional. Ini menjadi bukti bahwa adanya proses yang panjang bagi sebuah kelompok teater atau kesenimanan teater untuk menjadi mapan dengan tidak hanya memiliki kemampuan teknik belaka.

Transformasi Identitas
Sebuah dialektika kesenimanan dan intelektualitas dengan perjalanan masa yang menjadi suatu proses merupakan bentuk transformasi. Saya terkesan dengan istilah “transformasi” menurut Strauss (1959) yang mengisyaratkan penilaian baru tentang diri pribadi dan orang lain, tentang peristiwa-peristiwa, tindakan-tindakan dan objek-objek. Strauss menggaris-bawahi bahwa bentuk transformasi ini menjadi turning point atas apa yang telah menjadi proses berteater selama ini dari kelompok Teater Payung Hitam. Turning point dalam arti yang sesungguhnya sangat irreversible, tak dapat kembali, ia berjalan sesuai yang dialami menuju kenyataan kini. Hal ini telah diejawantahkan oleh kelompok Teater Payung Hitam sebagai sebuah bentuk transformasi identitas kekaryaan seorang seniman teater. Fase-fase kekaryaan dalam proses transformasi identitas sebagai suatu dialektika antara realitas dan idealitas dapat diklasifikasi secara periodikmelalui perwujudan karya-karya pertunjukan kelompok Teater Payung Hitam (Menunggu Godot karya Samuel Backett dipentaskan tahun 1991; Kaspar karya Peter Handke dipentaskan tahun 1994 dan 2004; dan Merah Bolong Putih Doblong Hitam karya Racman Sabur dipentaskan tahun 1996 dan 2008).
Dari fase perwujudan karya-karya pertunjukan teater tersebut, sesungguhnya kelompok Teater Payung hitam telah melakukan transformasi bentuk termasuk identitas mereka. Bahwa perubahan itu terjadi pada “tubuh” kelompok Teater Payung Hitam, sekaligus pada “nama” sosok atau kelompok tersebut. “Tubuh” teater adalah unsur yang paling gamblang yang membentuk identitas seseorang ataupun kelompoknya yang mengusung karakteristik dan mainstream yang khas. Tubuh teater diartikan sebagai unsur fisikal-material yang mengusung perwujudan bentuk pertunjukan teater secara artistik. Tubuh teater itu dapat menampakkan wujudnya jika ia mengalami proses ketubuhan. Pendapat tersebut tentu saja sangat didukung oleh kaum fenomenolog seperti Husserl, Heidegger, dan Merleau-Ponty yang menempatkan pengalaman sebagai ujung tombak memahami bagaimana tubuh manusia bersentuhan dengan dunia di luar dan/atau di dalam dirinya serta memprosesnya ke dalam kesadaran. Pengalaman ketubuhan manusia membuka peluang bagi penyelidikan yang cermat mengenai bagaimana manusia atau dalam hal ini kelompok teater melalui media tubuhnya mengalami ruang, waktu, benda, getaran suara, cahaya, aroma, serta lingkungan sosialnya; bahkan juga bagaimana individu mengalami gerak, suhu, permukaan, aroma, bunyi, maupun tegangan dan sensasi dalam tubuhnya sendiri. Dengan demikian terdapat peluang atas tubuh teater untuk terlibat secara aktif dalam mengalami fenomena yang ada di masyarakatnya melalui bentuk-bentuk transformasi ketubuhan. Fenomena ini sejalan dengan penyelidikan Harold Isaacs dalam Ethnicity: Theory and Experience (Glazer & Moynihan, 1975) bahwa tubuh akan selalu mengalami transformasi sebagai perubahan identitasnya yang dapat menghasilkan isyarat-isyarat perubahan budaya.  
Pengaruh pemikiran fenomenologi yang mengedepankan pengalaman ketubuhan dalam seni pertunjukan dicatatkan juga oleh Lono Simatupang yang menengarai karya penelitian Jeff Todd Titon (1997) tentang “the study of people making music” atau “experiencing music” dan juga Sally Ann Ness (1996) dalam “cross-culture studies of dance”. Berkaitan dengan hal itu, dialektika antara realitas dan idealitas kelompok Teater Payung Hitam sesungguhnya ingin mengarah pada fenomenologi perwujudan karya teater sebagai “The Making of Theatre” yang dibangun oleh interpretasi dan konsep personal, serta dikerjakan secara bersama-sama (ensamble). 
Konsep personal itu tentu saja berdasarkan pengalamannya yang mengalami transformasi. Menururt Edmund Husserl, bahwa tidak ada skema konseptual di luar pengalaman langsung yang sebenarnya cukup untuk mengungkapkan kebenaran, tetapi pengalaman yang disadari oleh individu harus dijadikan rute untuk menemukan realitas. Di sini ada pengakuan bahwa setiap orang itu merupakan subjek dengan pengalaman-pengalamannya sendiri. Tetapi orang juga menyadari tentang adanya perilaku dan pernyataan eksternal. Pengalaman orang lain menjadi landasan dan pengalaman sendiri akan membangun landasan intersubjektif, dan menjadi basis untuk sharing dalam membangun dunia nilai dan budaya. Hal ini terjadi pada cara-cara “the making of theatre”dari kelompok Teater Payung Hitam yang secara periodik menawarkan karya-karya pertunjukan dengan format berbeda, misalnya Menunggu Godot, Kaspar, dan Merah Bolong Putih Doblong Hitam. 
Pertunjukan sebagai teks karya mereka dihasilkan dari konstruksi atas apa yang mereka tafsirkan. Awalnya kesetiaan terhadap teks drama menjadi acuan sebagaimana dalam penggarapan pertunjukan Menunggu Godot, kemudian ia mengkonstruksi teks dan bahkan “memporakporandakan” teks sebagaimana penggarapan pertunjukan Kaspar, dan terakhir ia membuang dan atau melupakan teks untuk selanjutnya diubah menjadi teks-teks pertunjukan seperti garapan pertunjukan Merah Bolong Putih Doblong Hitam. Ini sebuah proses dialektika dan sekaligus menjadi turning point bentuk transformasi identitas diri kelompok Teater Payung Hitam, yang tentu saja dimobilisasi oleh pemikiran dan konsepsi personal atas dasar pengalamannya. Identitas merupakan suatu unsur kunci dari kenyataan subjektif yang selalu berhubungan secara dialektis dengan masyarakat (Berger & Luckmann, 1990). Setiap kelompok seni yang dilahirkan, sudah dengan namanya masing-masing, sebagai nama pribadi atau identitas kelompok atau juga sebuah nama untuk kelompoknya di mana dia dilahirkan. Demikian halnya dengan kelompok Teater Payung Hitam secara otomatis akan menjadikan dirinya sebagai diri yang tidak ada samanya, di antara kelompok yang lain, menunjukkan kebangsaan, atau unsur nasionalisme lainnya, wilayah, ataupun keberpihakan, bahasanya, keindahan, dan atribut yang dihasilkan akibat daripada kondisi ekonomi, sosial, politik dan hal ini terus mempengaruhi pandangan orang/kelompok teaternya sejak tumbuh sampai menemukan kedewasaan berpikirnya.

Akhirnya, Realitas nyata adanya, tapi idealitas ada hanya dalam tataran persepsi. Realitas yang ada patut kita perbincangkan dan idealitas dalam tataran persepsi patut pula kita wacanakan. Suatu realitas bahwa kelompok Teater Payung Hitam itu ada karena adanya sosok Rachman Sabur. Transformasi identitas kelompok Teater Payung Hitam itu juga realitas yang dibangun atas dasar pengalaman-pengalaman sosok primus interpres-nya, namun idealitas bisa dipersepsikan ”ada” atau ”tak ada”.