Mengenai Saya

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Dosen, pengamat dan pengkaji seni pertunjukan, budaya, dan komunikasi.

Pengikut

Kamis, 02 April 2009

Studi Komunikasi Seni Pertunjukan pada Tarling Candra Kirana Cirebon

OLEH

J A E N I

Jurusan Teater – Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung

ABSTRAKSI

The Study of performing art communication is aimed to analyze the meaning of drama, dance, and music in tarling Cirebon. The author employed a qualitative approach in the tradition of phenomenology. In addition, the author employed techniques such as in-depth interview, participatory observation, and documentation study. The result of study showed that in folk performing art tarling Cirebon be found elements; like drama, dance, and music is constructed of dramatical communication, kinetical communication, and musical commnication

Key words:

Performing Art Communication; Dramatic-kinetic-Music Communications

Korespondensi: jenteaterwot@yahoo.com

PENDAHULUAN

Sebagai seni pertunjukan rakyat, tarling memiliki unsur-unsur dasar pertunjukan yang sama dengan pertunjukan rakyat umumnya yang meliputi unsur lakon (drama), tari, dan musik yang dipadukan dengan tembang cirebonan atau dermayonan. Berkenaan dengan keberadaannya di lingkungan rakyat yang lebih egaliter, maka tarling lebih menonjolkan problematika rakyat kebanyakan. Tarling menjadi kesenian khas masyarakat Cirebon dan Indramayu disebabkan kemasan musik dan lagu-lagunya yang menjadi teks masyarakat itu berkelindan dengan konteks yang dihadapi masyarakat kedua daerah tersebut.

Pengakuan masyarakat terhadap tarling Cirebon atau Indramayu tidak bisa dihindarkan sebagai bentuk kesenian miliknya yang khas, setelah kesenian tersebut mengalami puncak kejayaan sekitar tahun 1970-an hingga 1980-an. Sekalipun dalam fase saat ini, pertunjukan tarling dalam beberapa bagiannya sudah mulai berubah, beberapa kelompok yang dulu aktif kini tidak lagi aktif atau tergusur oleh bentuk pertunjukan lain, namun eksistensinya masih dirasakan hingga kini.

Beberapa kelompok kesenian tarling masih bertahan untuk menunjukkan bahwa kesenian tersebut sebagai warisan budaya yang khas masyarakatnya. Dalam beberapa kesempatan kesenian tarling masih eksis manggung di tengah-tengah masyarakatnya. Sajian lakon-lakon drama tarling seperti Baridin, Saidah Saeni, Kawin Makru, Ki Mardiya dan lain-lain masih dirindukan dan menjadi lakon kebanggaan masyarakat Cirebon dan Indramayu. Tarian dan musik seni tarling selalu hadir di tengah-tengah pertunjukan tersebut, bahkan musik tarling yang biasa disebut musik cirebonan atau dermayonan tidak hanya menjadi milik masyarakat lokal tetapi juga nasional, misalnya lewat lagu-lagu Pemuda Idaman, Mabok Bae, Wadon Bae, dan lain-lain.

Dalam perspektif komunikasi seni pertunjukan, tarling memiliki pesan-pesan yang dihasilkan dari unsur-unsur pertunjukan seperti drama, tari, dan musik. Untuk mengkaji dalam perspektif tersebut, ada dua komponen yang lazim dilakukan dalam penelitian komunikasi budaya. Dua komponen tersebut meliputi komponen budaya dan komponen komunikasi. Komponen budaya akan meliputi; pandangan dunia, kepercayaan, nilai, sejarah, mitos, dan otoritas status. Sementara komponen komunikasi dapat diidentifikasi melalui empat unsure, yakni; pesan komunikasi, peserta komunikasi, sandi yang digunakan, dan media atau yang lazim dalam penelitian biasanya terdiri dari komponen-komponen; komunikator, pesan, media, komunikan, dan analisis konteks komunikasi (lihat Rakhmat, 2000: 242-245). Dengan mempertimbangkan komponen budaya dan komunikasi pada suatu bentuk seni pertunjukan tarling, maka penelitian ini mencoba menelaah unsur-unsur seni pertunjukan seperti drama, tari, dan musik sebagai bentuk lain dari komponen komunikasi dan komponen budaya.

Permasalahan yang muncul adalah, bahwa sebagian besar pengamat seni pertunjukan, budayawan, seniman, termasuk akademisi di bidang seni pertunjukan cenderung melihat seni pertunjukan dari luar perspektif komunikasi. Mereka lupa subtansi dan esensi seni pertunjukan sebagai media komunikasi untuk menyampaikan informasi, baik melalui drama, tari, maupun musik.

Tidak sedikit pergelaran seni pertunjukan dinilai gagal bukan semata-mata karena tidak indah dengan dukungan peralatan lengkap dan panggung yang megah. Namun kegagalan itu dikarenakan tidak mampu memberikan informasi atas apa yang dipertunjukkannya. Pertunjukan tidak mampu “mengkomunikasikan” apa yang mereka pertunjukan. Kesan yang muncul, bahwa pertunjukan sudah menjauhi dari konteks zaman yang masyarakat alami. Hal ini terjadi pada subjek penelitian tarling, grup tarling ”Candra Kirana” di daerah Cirebon, yang pementasannya bertepatan dengan Festival Pesisir Cirebon.

Berdasarkan masalah di atas, maka tulisan hasil pendekatan kualitatif melalui studi komunikasi seni pertunjukan terhadap drama, tari, dan musik pada seni pertunjukan tarling Candra Kirana Cirebon bertujuan membeda aspek-aspek komunikasi, yang meliputi; komunikasi dramatikal (drama), komunikasi kinetikal (tari), dan komunikasi musikal (musik). Lebih jauh, tulisan ini ingin melihat bagaimana komponen komunikasi dalam seni pertunjukan tarling pada grup tarling Candra Kirana diidentifikasi dengan menempatkan pelaku seni, seni pertunjukan, dan penikmat seni menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam pemaknaan komunikasi seni pertunjukan sesuai dengan konteks sosial budaya mereka.

TINJAUAN PUSTAKA

Penelitian tentang komunikasi seni pertunjukan teater rakyat sandiwara Cirebon, sebuah kajian makna simbol budaya dalam sudut pandang hermeneutika (Jaeni, 2005) adalah penelitian yang memiliki perspektif komunikasi Namun dalam kajian itu hanya menyoroti makna seni pertunjukan sebagai media komunikasi, bahwa sandiwara Cirebon dapat berfungsi sebagai media komunikasi tradisi lisan, media dakwah (syiar Islam), media ritual, dan media hiburan. Kajian dalam penelitian ini belum mengekplorasi lebih dalam tentang bagaimana proses komunikasi dalam seni pertunjukan itu berlangsung, sebagai bentuk komunikasi dramatik, kinetik, dan musik.

Penelitian lain yang mengarah pada komunikasi seni pertunjukan adalah disertasinya Santosa (2001) yang berjudul “Constructing Images in Javanese Gamelan Performances: Communicative Aspect among Musicians and Audiences in Village Communities”. Disertasi ini memberikan gambaran bagaimana pesan disampaikan oleh pertunjukan gamelan sebagai sebuah proses komunikasi musikal, sifat komunikasi musikal, dan pemaknaan atas pesan dan kesan dalam konteks pertunjukan (Santosa dalam Waridi dan Murtiyoso, 2005: 41-51). Akan tetapi dalam tulisan tersebut mengabaikan respon penonton sebagai suatu bentuk interaksi, penonton didudukan pada sosok pasif, bukan sebagai komunikator.

Dalam konteks komunikasi seni pertunjukan, simbol adalah sesuatu yang dipertukarkan baik dalam komunikasi verbal maupun non-verbal. Komunikasi yang dibangun pada ranah seni pertunjukan akan bersifat lebih interaksional. Oleh karenanya, dalam kehidupan budaya (dunia seni pertunjukan) sesungguhnya merupakan juga ruang proses komunikasi simbolik, interpretatif, transaksional, dan kontekstual yang dilakukan sejumlah orang yang memberikan interpretasi dan harapan berbeda terhadap apa yang disampaikan (Liliweri, 2003:13).

Seni pertunjukan rakyat yang hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat pendukungnya, pada hakekatnya adalah sebuah media komunikasi budaya. Sebagai media komunikasi budaya, seni pertunjukan rakyat memiliki pola interaksi dengan masyarakat lingkungannya, dimana setiap orang atau masyarakat ingin melibatkan dirinya dengan cara menonton, mengapresiasi, mengamati, menginterpretasi, mengkritisi dan bahkan ingin melibatkan diri menjadi pelaku dalam peristiwa pertunjukan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Di sini, interaksi lebih dipandang sebagai interaksi simbolik yang merupakan aktivitas sebagai ciri khas manusia, yakni komunikasi atau proses pertukaran simbol yang diberi makna (Mulyana, 2002: 68).

Dalam interaksionisme simbolik, George Herbert Mead menekankan bahwa dalam suatu interaksi posisi diri sangat penting, oleh karena ia merupakan subjek dan objek bagi dirinya yang bebas. Ia akan menjadi objek terlebih dahulu sebelum diri itu menjadi subjek. Diri akan mengalami proses internalisasi atau interpretasi subyektif atas realitas struktur yang lebih luas (Wallace and Zeitlin dalam Soeprapto, 2002: 117; Ritzer & Goodman, 2005: 285-286). Pernyataan ini mendasari bagaimana interaksi seniman dan masyarakatnya dimediasi oleh seni pertunjukan.

Sementara Erving Goffman, Kenneth Burke, dan Walter Fisher yang merupakan para tokoh yang dekat dengan mazhab interaksionisme simbolik memandang ineteraksi simbolik dalam kehidupan sosial sebagai bentuk pertunjukan. Goffman mampu menawarkan konsep baru, yakni dramaturgis dalam kajian komunikasi, sementara Burke mampu menawarkan konsep dramatism yang menganggap bentuk-bentuk simbol itu penting bagi manusia (Littlejohn, 1999: 162-167; Miller, 2001: 88-91; West & Turner, 2007: 358-360). Demikian pula Fisher yang menawarkan konsepsi paradigma naratif yang memberikan penegasan bahwa sesungguhnya manusia itu mahluk yang bercerita, ia adalah pendongeng (storyteller) (Griffin, 2006: 139).

Pandangan interaksionisme simbolik merupakan sederet pengetahuan yang dapat dijadikan pijakan dalam mengamati drama, tari, dan musik pada seni pertunjukan tarling Cirebon dalam studi komunikasi seni pertunjukan. Komunikasi seni pertunjukan pada prinsipnya menekankan pada bagaimana makna itu muncul dan dipahami setelah dikelola dan dipresentasikan lewat sebuah pertunjukan sebagai suatu bentuk simbol, baik berupa drama, tari, maupun musik. Komunikasi menurut Pace dan Faules (Mulyana, 2002: 36-37) bukan sekedar alat untuk menggambarkan pikiran, namun ia adalah pikiran dan juga pengetahuan.

Komunikasi seni pertunjukan tidak sekedar komunikasi sebagai tindakan praktis namun lebih tinggi sebagai sebuah tindakan pragmatis, dan bahkan tindakan ideal (Bakker dalam Herusatoto, 2003: 15). Bagi Masyarakat Cirebon, pergelaran seni pertunjukan tidak sekedar berkaitan dengan kemeriahan. Perhelatan itu memiliki makna sebagai totalitas pertunjukan yang dapat memberikan pencerahan bagi segenap masyarakat yang terlibat. Seni pertunjukan dalam proses komunikasi adalah tindakan-tindakan ekspresif yang bisa hanya mengatakan sesuatu tentang dunia apa adanya juga bisa bermaksud mengubah tatanan dunia tersebut secara metaporis (Leach, 1976: 43).

Dengan meminjam terminologi interaksionisme simbolik, komunikasi seni pertunjukan dapat digambarkan sebagai berikut:

Down Arrow Callout: Ragam Penafsiran/TindakanM  A  K  N  A


PEMBAHASAN

a. Tarling Klasik Candra Kirana Cirebon

Tarling pada awalnya hanya berupa permainan anak-anak muda di kala melepas lelah setelah seharian bekerja. Saat itu, pada masa akhir pendudukan Jepang dan memasuki awal revolusi kemerdekaan, permainan mereka hanya menggunakan sebuah gitar dengan menirukan pola tabuhan (melodi) saron. Motif pukulan/tabuhan saron (gamelan) yang berhasil ditransfer ke dalam petikan gitar, akhirnya menjadi kebiasaan remaja saat itu dan dimainkan sambil berkeliling kampung pada malam hari. Hal itu mereka lakukan secara spontanitas dengan membawakan lagu-lagu tradisional yang biasa diiringi musik ensambel gamelan khas Cirebon.

Sementara itu yang pertama kali memelopori bentuk sajian musik gitar dan suling di Cirebon adalah Jayana dengan temannya seorang pemuda keturunan Cina bernama Liem Sin You yang kemudian dikenal dengan nama Pak Barang. Dari kreativitas kedua tokoh itu, dengan memasukan instrumen suling, benih-benih Tarling mulai nampak. Dan dari perpaduan antara gitar dan suling tersebut menghasilkan warna dan corak musik yang cukup unik dan menarik. Kemudian menjelang perang kemerdekaan, dibentuklah Tarling Barang CS. Istilah barang itu sendiri diambil dari kata bebarang yang artinya ngamen.

Begitu tarling mendapat respon yang cukup baik dari kalangan masyarakat, maka sekitar tahun 1950-an Jayana menambahkan beberapa instrumen lain, seperti; Kendang, Ketuk, Kebluk, Kecrek, dan Gong. Hingga dalam perkembangannya, Tarling garapan Jayana terus mengalami perubahan-perubahan menjadi media hiburan massa yang dipentaskan lewat panggung setara dengan kesenian lain yang sebelumnya telah lebih dulu berkembang di wilayah III Cirebon.

Perkembangan Tarling yang begitu cepat, selain faktor dukungan masyarakat apresiatornya juga didasari oleh kreativitas penggarapnya yang cukup tanggap terhadap gejala-gejala yang berkembang di dalam masyarakat itu sendiri.kesenian Tarling akhirnya menjadi sebuah seni pertunjukan yang paling banyak di gemari pada era 1960 hingga 1970-an.

Terdapat beberapa grup kesenian tarling di daerah Cirebon, misalnya grup tarling Putra Sangkala yang berubah nama menjadi Putra Swara, Grup tarling Cahaya Muda, Tarling Udin Zaen, dan tarling Candra Kirana yang dipimpin oleh Jana Sutrisna. Dari sekian kelompok tarling, pada penelitian ini hanya ditemui pementasan dari grup tarling Candra Kirana pimpinan Jana Sutrisna.

Jana Sutrisna bukanlah seorang yang baru menggeluti dunia seni tarling. Ia mendirikan kesenian tarling Candra Kirana yang hingga kini masih bertahan dan mempertahankan bentuk pertunjukan tarling, yang ia namakan sebagai tarling klasik. Konstruksi dasar pertunjukan Tarling Klasik Candra Kirana sama d dengan bentuk karawitan Sekar Gending (Kliningan) gaya Cirebonan dengan menyajikan lagu-lagu klasik Cirebonan, seperti; Jipang Walik, Barlen, Bayeman, Waledan, Bendrong, dan lain-lain. Jelasnya Tarling adalah lebih dari hasil transformasi atas bentuk karawitan atau musik gamelan khas Cirebon, baik lagu-lagunya maupun iringan musiknya, namun ia adalah kesenian bentuk baru yang diciptakan oleh masyarakat lingkungannya. Kita bisa menyimak petikan gitar yang berlaraskan Pelog dan Slendro dari kelompok tarling Candra Kirana sebagai hasil peniruan dari pola tabuhan (melodi) saron.

Dalam mempertahankan format pertunjukan tarling klasik, grup tarling Candra Kirana mencoba mengadopsi lagu Kiser menjadi salah satu dari reportoar lagu-lagu garapannya. Dengan hadirnya lagu tersebut, pertunjukkan tarling Candra Kirana mendapat respon positif dari masyarakat penontonnya. Lagu-lagu itu semakin menarik perhatian setelah oleh penciptanya, Carini (pesinden Wayang Kulit), dilansir ulang dengan mengangkat tema legenda masyarakat Cirebon yakni; Saidah Saeni. Sejak saat itu lagu tersebut menjadi populer dengan nama Kiser Saidah1.

Sekalipun pertunjukan tarling mengalami inovasi oleh beberapa kelompok tarling, khususnya perubahan pada bentuk penyajian pada sekitar tahun 1955 dengan mendramatisir lagu Kiser Saidah oleh tokoh tarling Cirebon, Uci Sanusi dengan cara menghadirkan pesinden dan wirasuara sebagai penjelma tokoh utama dalam kisah lagu tersebut. Dan pada pertengahan tahun 1960-an bentuk pertunjukan Tarling dirombak total, dari bentuk musik direkayasa menjadi bentuk teater oleh Abdul Adjib dengan cara memvisualisasikan melalui laku dramatik. Namun bagi grup tarling Candra Kirana inovasi yang mengarah pada bentuk teater rakyat tidak menyentuh pertunjukannya. Ia konsisten mementaskan bentuk pertunjukan tarling yang ia sebut tarling klasik yang didominasi oleh musik dan lagu kiser.

Sekalipun bentuk pertunjukan tarling Candra Kirana yang mengarah pada tarling klasik, namun bukan berarti kehilangan unsur dramatik, kinetik, dan musik sebagai bentuk pertunjukan rakyat. Unsur dramatik ia sajikan melalui bentuk rumpaka (lirik) lagu yang digunakan untuk kebutuhan dialog yang dinyanyikan diambil dari folklor lisan berbentuk puisi rakyat semacam wangsalan, parikan, sisindiran, pupuh dan lain-lain. Sementara musikalitas dan unsur kinetis terpadu dalam setiap pertunjukan tarling Candra Kirana yang dikemas dalam dominasi musik dan tembang.

Pada penyajian bentuk sastra (puisi terikat) tersebut yang lebih banyak dipergunakan adalah wangsalan dan sisindiran seperti contoh berikut:

Nandur cipir godonge bae // Ana pikir Cuma omonge bae

(Nanam kecipir daunnya saja // Ada pikir cuma omongnya saja )

Sedang bentuk sisindiran seperti berikut:

Kemis manis Jumah Kliwon / Padang wulan pat belase / Esuk nangis sore ketuwon / Ketemu pada melase (Kamis manis Jum’at kliwon / terang bulan tanggal empat belas / Pagi menangis sore bingung / ketemu sama-sama sengsara).

Dengan hal-hal seperti itu Tarling Candra Kirana menunjukkan dirinya sebagai grup tarling yang memiliki peranan dalam arena sosial sebagai tontonan sekaligus memberi arti pada seni pertunjukkannya itu sendiri sebagai suatu pengalaman bersama dimana penonton dan pemain berhubungan.

b. Komunikasi Dramatikal dalam Tarling Candra Kirana

Unsur-unsur dramatik dalam pertunjukan tarling Candra Kirana tidaklah dikemas dalam bentuk adegan drama yang utuh dan punya lakon (judul lakon sendiri). Dramatik pertunjukan dalam kesenian tarling ini lebih dibangun oleh sajian musik dan tembang yang diekspresikan oleh para sinden atau wiraswara. Unsur dramatik terdapat pada esan-pesan yang bersifat mendidik dalam pertunjukan tarling selain diungkapkan melalui dialog dalam bentuk bahasa prosa, juga diekspresikan lewat dialog berbentuk bahasa puisi yang dinyanyikan, seperti di bawah ini :

Gumelar ning alam dunya / Yen kula kudu sapikir / Ning segala lelampahan / Silih asah silih asuh / Runtut rukun lan sesame / Genjlong balong sehaluan / Sehaluan.

Cung Kurdi Cung Ijan / Ampun Gusti kulane ampun / Bener jare kandane wong tuwa / Aja sok ngumbar awahe nafsu / Mbok rasaning sing katempuhan / Sambat-sambat kang langka artine.

Bahasa puisi yang ditembangkan oleh grup tarling Candra Kirana merupakan bentuk kreatifitas para seniman tarling dalam mewujudkan unsur dramatik yang dikomunikasikan lewat suatu narasi. Narasi bisa dibacakan, dinyanyikan, dideklamasikan dan bisa diterjemakan dalam bahasa tubuh sebagai bentuk komunikasi manusia. Pandangan tentang narasi tersebut sejalan dengan apa dikemukakan oleh Walter Fisher, bahwa melalui komunikasi manusia menunjukkan sesuatu yang lebih mendasar daripada rasionalitas, kuriositas atau dalam penggunaan simbol-simbol. Baginya, semua bentuk komunikasi yang menarik alasan kita adalah suatu jenis cerita yang berkaitan dengan sejarah, budaya, atau karakter manusia itu sendiri. Dengan demikian Fisher sangat setuju jika hampir semua tipe komunikasi adalah cerita (narasi) (Griffin, 2006: 339-347).

Melihat syair lagu di atas yang dinyanyikan dalam pertunjukan grup tarling Candra Kirana pada saat itu sesungguhnya telah memainkan suatu bentuk narasi sebagai bagian dari tindakan simbolik dalam kata maupun tindakan yang memiliki susunan dan makna bagi siapapun yang hidup, berkreasi, dan berinterpretasi. Narasi itu adalah akar komunikasi dalam ruang dan waktu, dimana di dalamnya narasi memuat setiap aspek dari kehidupan mamsyarakat Cirebon yang menunjukkan karakter, motif, dan tindakan. Syair itu ingin menunjukkan bagaimana manusia (masyarakat) Cirebon mendambahkan kehidupan yang tentram, silih asah silih asih, hidup rukun sepemikiran. Pada Bait selanjutnya yang dinyanyikan dengan ekspresi tajam, pertunjukan itu menawarkan gambaran bagaimana orang tua yang dihimpit faktor ekonomi haruslah tabah dan tetap usaha pada jalan yang benar, daripada meminta-minta pada sosok-sosok yang menyebabkan perbuatan sirik.

Syair lagu itu dipertunjukan mengingat kondisi masyarakat Cirebon yang pada saat itu dihantui oleh pengangguran dan banyaknya tawuran antardesa. Pada sisi lain banyak masyarakat melalukan praktek perjuadian, togel, untuk memenuhi kebutuhan ekonominya. Tak pelak, situasi ini memberikan inspirasi bagi seniman tarling untuk menciptakan narasi dalam pertunjukan tarling tersebut. Untuk mempertegas pertunjukan tarling dalam sub bagian yang menceritakan kondisi masyarakat Cirebon yang dilanda demam perjudian, dalam pertunjukan tarling Candra Kirana disajikan syair lagu Penyakit Jaman karya Abdul Ajib sebagai berikut :

Wis teka waktune / Ibarat Semar klalen karo mantune / Gudel nusoni kebo / Boca cilik pada apal-apal sio. // Angka setan kawin / Ana dimistik ana cara diples min / Panatik ning itungan / Kang herane ngitung bli nganggo aturan. // Jukut waktu dina / Ndeleng nomer umah / Manis pahing lan pon / Jum’ah wage kliwon. // Ndeleng nomer kota / Aduh matek-matek apa / Njeblos sewot ning sapa / Ning penyakit jaman. // Timbul rupa-rupa bentuk penipuan / Nanging jaman sakien / Rabi tuku ciamsi / Ngomong bahasen.

Syair ini merupakan bentuk sindiran terhadap semua masyarakat yang gandrung melakukan praktek perjudian togel yang pada saat itu tengah marak terjadi. Lewat syair itu, praktek perjudian togel membuat masyarakat melakukan hal-hal yang tidak rasional dalam kehidupan sosial. Anak-anak di bawah umur sudah bisa menghafal sio (gambar binatang simbolik masyarakat Tiong Hoa) yang memiliki angka-angka sebagai rujukan memasang togel. Apapun yang berkaitan dengan angka, baik lewat mimpi atau penglihatan secara sadar dihitung-hitung (dimistik) untuk mendapatkan angka yang akan keluar dalam judi togel. Dengan maraknya judi togel tak pelak lagi menimbulkan banyak penipuan dan penyakit zaman lainnya.

Melalui pandangan Fisher, syair-syair dalam pertunjukan tarling Candra Kirana sebenarnya menjadi bagian dari cara pandang masyarakatnya atas pergeseran paradigma dari dunia rasional menuju narasi seseorang. Dunia naratif yang disajikan oleh kelompok seni tarling sesungguhnya merupakan suatu kehidupan yang dihuni oleh sosok-sosok yang menjadi pendongeng (storyteller). Rasionalitas naratif ditentukan oleh koherensi dan ketepatan cerita pada saat itu mengenai masyarakatnya, dimana dunia merupakan perangkat cerita untuk dipilih hingga mengkreasi kembali hidup kita.

Jika demikian, apa yang disajikan oleh pertunjukan tarling Candra Kirana bukan semata-mata kesenian melainkan sesuatu tindakan komunikasi yang didasarkan atas argumentasi narasi seseorang dalam melihat kondisi masyarakat pada zamannya. Syair-syair hadir dalam pertunjukan tarling dengan pemilihan tema zaman, konteks sosial budaya masyarakat, narasi-narasi lisan masyarakat, dan peran-peran individu yang ada dan terlibat dalam pertunjukan itu.

Melalui nilai-nilai dramatik syair/lagu dalam pertunjukan tarling Candra Kirana, komunikasi dibangun dengan memunculkan pesan-pesan moral, disamping nilai-nilai kehidupan masyarakat lingkungannya. Kebaikan dan dan lawan dari kebaikan itu adalah dua sisi yang selalu ditonjolkan dalam setiap unsur dramatik yang dipertunjukkan kesenian tarling melalui syair/nyanyian yang dibungkus dengan dominasi musikal. Sekalipun dalam pertunjukan tarling Candra Kirana tidak ditampilkan drama dan lakonnya, namun dari beberapa sub pertunjukan yang menyajikan lagu-lagu dapat memunculkan nilai-nilai dramatik tersendiri. Nilai dramatik tersebut dalam kesenian tarling sesungguhnya cerminan masyarakat dengan konteks yang sesuai. Yang mereka hadirkan adalah simbol-simbol yang meliputi pandangan dunia mereka, nilai-nilai yang berlaku pada masyarakat mereka, mitos, sejarah, dan otoritas status mereka. Hal ini dapat kita maknai, bahwa nilai-nilai dramatik yang terdapat dalam syair-syair atau lagu-lagu dalam kesenian tarling merupakan suatu dunia mini yang merepresentasikan kehidupan masyarakatnya.

c. Komunikasi Kinetikal dalam Tarling Candra Kirana

Apa yang tersaji dalam pertunjukan tarling Candra Kirana yang dipentaskan dalam hajat besar ”Festival Pesisir” sesungguhnya bukan merupakan sajian seni tari, mealinkan sajian pertunjukan rakyat Cirebon. Namun demikian, sebagaimana hakikat pertunjukan rakyat bahwa tarian merupakan suatu unsur pertunjukan yang tak lepas dari keseluruhan bentuk pertunjukan, maka tarian yang ada dalam pertunjukan tarling Candra Kirana setidaknya akan memiliki makna dalam perspektif komunikasi seni pertunjukan.

Tarian dalam tarling karena bersumber pada tayub maka umumnya struktur tari bertingkat. Dengan struktur tarian yang bertingkat tersebut maka proses komunikasi kinetikal yang terjadi pada kesenian tarling lebih bersifat improvisatif dan interaktif. Tarian dalam tarling mencerminkan pandangan dunia (worldview) seoarang seniman atas tindakannya. Tari bukan sekadar gerak tubuh, namun ia mempersepsikan, menginformasikan, dan mengejawantahkan suatu tingkat pandangan tentang dunia dimana mereka hidup. Jika tari hadir dalam suatu bentuk pertunjukan seperti dalam pertunjukan tarling, maka tarian itu tengah mengejawantahkan tentang dunia kesenian tarling. Pandangan masyarakat terhadap bentuk tarian yang disajikan dalam tarling misalnya, kelihatannya hanya sebagai hiburan saja yang tujuannya untuk menarik perhatian atau mengumpulkan penonton setelah tatalu atau gagalan. Artinya sajian tarian itu tak beda dengan fungsi musik gagalan. Masyarakat tidak memandang tarian dalam pertunjukan tarling sebagai sesuatu yang bermakna lebih kecuali bentuk hiburan sebab di sana hanya berfungsi sebagai pelengkap saja dalam sajian tarling.

Namun sesungguhnya, tarian dalam komunikasi budaya merupakan wujud kepercayaan individu atau masyarakatnya. Apabila melihat kepercayaan masyarakat terhadap bentuk tarian yang ada di Cirebon secara umum hal itu sudah menjadi kepercayaan kolektif bahwa tarian memiliki makna yang dalam bagi masyarakat. Hal ini dilatarbelakangi oleh awal kemunculan tari-tarian Cirebon yang mengusung makna penyebaran agama. Oleh karena fungsi tari dalam tarling hanya merupakan sajian hiburan atau pertunjukan yang dimaksudkan dengan tujuan mengumpulkan massa sebelum acara utama pertunjukan tarling disajikan, maka bentuk-bentuk kepercayaan terhadap tarian dalam tarling pun dimaknai berbeda dengan bentuk tari di luar tarian dalam tarling.

Nilai-nilai sakral dalam tarian tarling tidak mungkin muncul akibat sifatnya yang profan. Tarian dalam tarling bisa jadi hanya pada tataran interaksi sosial sebagai bentuk komunikasi pergaulan. Kentalnya unsur hiburan menjadi nilai tarian dalam tarling dikomunikasikan sebagai bentuk luapan pragmatis individu-individu di atas pentas guna memenuhi kebutuhan hiburan. Sekalipun demikian nilai-nilai dalam tarian pertunjukan tarling itu tetap ada meliputi nilai ekonomi bagi para penari, nilai estetis bagi pelaku dan penonton, serta nilai sosial yang terjadi sebagai bentuk pergaulan.

Sementara mitos tentang tari dalam pertunjukan tarling dibangun oleh mitos-mitos yang dipercayai oleh masyarakat sekelilingnya. Mitos merupakan sesuatu yang masih diyakini oleh masyarakat umum, khususnya oleh masyarakat Cirebon dan Indramayu. Mitos tentang Sunan Panggung yang menyebarkan agama Islam lewat sajian wayang dan tarian masih diyakini sebagi bentuk tarian yang bukan sekadar gerak melainkan ada memiliki misi-misi tersembunyi. Merujuk pada tari-tarian yang ada pada pertunjukan tarling dalam konteks dewasa ini sangatlah sulit untuk dikatakan bahwa gerak-gerak tari yang ada sebagai bagian dari mitos sunan Panggung. Hal ini karena sifat kesenian tarling yang tidak berakar dari suatu sistem kepercayaan lama.

Jika pun ada makna, tarian dalam pertunjukan tarling menyimpan makna sebagai otoritas status masyarakat sekeliling mereka. Tari-tarian yang ada bukanlah tari tunggal yang merepresentasikan sosok lain dalam suatu kepercayaan religius, melainkan tarian yang biasanya berpasangan. Ketika mereka berpasangan, sebenarnya mereka tengah merepresentasikan kehidupan sosial mereka. Mereka memainkan peranannya di atas panggung dalam rangka mengejawantahkan kehidupan sosial dengan berpasangan, kebersamaan, dan saling melengkapi. Mereka adalah masyarakat dari kalangan rakyat yang mengutamakan hidup bersama guna menjaga keseimbangan dan harmonisasi dalam kehidupan sosial mereka.

d. Komunikasi Musikal dalam Tarling Candra Kirana

Dalam kesenian tarling penggunaan instrument bangsing atau suling sangat dominan sebagai unsur melodis, sehingga secara kompositoris seni Cirebon pada umumnya dan seni Tarling khususnya memiliki pertautan harmoni yang agak spesifik. Keberadaan musik tarling belumlah dikatakan sebagai musik yang cukup tua kehadirannya sebagaimana yang ada pada pertunjukan tarling Candra Kirana, namun musik tarling menjadi sangat istimewa bagi masyarakat Cirebon karena keunikan dan kekhasan kultural masyarakat tersebut.

Terdapat kecenderungan penggunaan laras (sejenis nada dasar) terutama pada instrumen Gitar dan Suling dalam tarling dikesankan lebih dekat kepada penggunaan sistem diatonis (umumnya yang digunakan pada Musik Barat), padahal lagu-lagu yang disajikannya hampir sebagian besar menggunakan sistem pentatonis (umumnya banyak digunakan di wilayah Musik Timur). Oleh karena itu dengan pendekatan pada sistem nada dasar Barat, maka fleksibilitas penggunaan nada dasar pada seni Tarling Candra Kirana dan tarling pada umumnya tidak terlalu terikat seperti dalam sistem yang berkembang pada seni gamelan yang mempergunakan nada-nada pentatonis (dengan jarak interval relatif berbeda). Sebagai contoh, bilamana seorang vokalis (Sinden) tidak mampu menyanyikan pada nada dasar C karena terlalu tinggi, maka yang bersangkutan akan meminta diturunkan menjadi nada dasar A mengingat sistem kromatis pada interval diatonis sangat dimungkinkan. Salah satu kelebihan yang terjadi seperti inilah, disinyalir seni Tarling cukup berkembang secara cepat, baik dilihat dari sisi kualitas garap, maupun dari sisi kuantitas dimana keberadaannya sangat dominan mewarnai seni pertunjukan di daerah Cirebon dan Indramayu.

Demikian halnya dengan penggunaan unsur lagu sebagai bagian dari penciri yang sangat khas untuk musik berkarakter ‘kaleran’ ini, yakni Kiser dan Dermayon. Kiser merupakan rentetan penyajian syair lagu yang bersumber pada kisah (kiser) atau dalam percaturan Musik Barat disebut dengan istilah Balada (balads). Karenanya dalam penyajian seni Tarling akan banyak didapatkan judul-judul lagu seperti; Kiser Baridin, Kiser Saidah-Saini, Kiser Kedondhong, dan lain sebagainya yang kerap menjadi penampilan utama sebagai primadona pertunjukkannya.

Bagi sebagian kalangan seniman tarling Cirebon (terutama seniman Tarling Candra Kirana), meskipun seni tarling tidak selamanya berkaitan dengan kepentingan spiritual mereka, namun mereka menumbuh-kembangkan seni Tarling sebagai kebanggaan tersendiri. Mereka sangat menyadari bahwa proses asimilasi seni Tarling yang direduksi dari seni yang berasal dari Musik Barat (instrumennya) tersebut dapat dikatakan sebagai dinamika kreativitas yang memiliki nilai yang cukup tinggi.

Akan tetapi, karakteristik masyarakat Cirebon yang egaliter serta berada di wilayah persimpangan budaya menyebabkan hampir sebagian besar seni tradisional atau seni klasik Cirebon saat ini telah berada pada fase yang sangat mengkhawatirkan serta mencemaskan. Masuknya seni asing (seni Dangdut) pada pertengahan tahun 1970-an telah merebut perhatian masyarakat Cirebon untuk berpaling kepadanya. Bahkan kini jargonnya sangat dirasakan, baik seni Tarling maupun seni-seni pertunjukan tradisi lainnya tidak lengkap bila tidak menyertakan seni yang banyak goyangannya itu. Grup Tarling Candra Kirana yang dengan sekuat tenaga mempertahankan sajian-sajian musik tarling klasik namun pada tengah-tengah pertunjukan akhirnya menyerah dengan menampilkan sajian musik Tardut (Tarling Dangdut). Eksotisme yang pernah hinggap pada seni Tarling klasik Candra Kirana dengan sajian kisernya, kini telah bercampur dengan selera masyarakat terhadap musik yang berubah.

Terdapat pendapat-pendapat masyarakat yang merasakan bahwa tarling dangdut adalah bentuk lain kelanjutan kesenian tarling Cirebon. Dominasi musik dan syair lagu cerbonan atau dermayonan pada kesenian “tarling masa kini” cukup diakui sebagai suatu bentuk kesenian yang dilahirkan dari kesenian bernama Tarling. Mengingat sikap-sikap terbuka pada masyarakat Cirebon dan sikap egalitarian yang menyelimuti kehidupan masyarakat tersebut, maka unsur-unsur musik modern seperti dangdut diadopsi sebagai pasangan seni tarling yang sudah menjadi milik mereka. Akhirnya, ada kesan musik tarling klasik yang disajikan oleh grup tarling Candra Kirana hanya merupakan romantisme belaka. Hanya kalangan tua yang mampu berkomunikasi dengan musik tarling klasik, sedangkan kaum muda tidak bisa merasakan musik tarling klasik tersebut sebagai sesuatu yang menggairahkan.

Sesungguhnya masyarakat Cirebon maupun Indramayu cukup memiliki rasa musikalitas yang tinggi sehingga keberadaan musik dari luar menjadi bagian yang tak terpisahkan dari musik yang mereka miliki. Hal ini cukup memacu kreativitas masyarakat seniman Cirebon dan Indramayu di bidang musik, terutama musik daerah untuk berkomunikasi dengan khalayak yang lebih luas. Nuansa musik tarling misalnya, menjadi nuansa musik cirebonan ini sebagai musik daerah yang dalam perkembangannya hingga saat ini menjadi salah satu bentuk musik seperti dangdut cirebonan. Nampak terlihat bahwa produktifitas musik daerah Cirebon dan Indramayu yang sempat memberikan warna musik bangsa dengan album-album tarling dangdut (dangdut cerbonan) seperti Pemuda Idaman, mBahpuk, Wadon Bae, Mabok Bae, Kucing Garong, Arjuna Ireng dan lain-lain cukup menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri.

Keseluruhan musik dan lagu dari perkembangan musik tarling sangat digemari oleh masyarakatnya. Musik tarling cerbonan seperti itu mampu menjadi media perasaan masyarakatnya dan itu berlangsung hingga kini. Musik mampu berkomunikasi dengan masyarakatnya untuk membangkitkan gairah kerja di bidang sosial, ekonomi, dan budaya. Hal ini bisa kita lihat dari berbagai aktifitas masyarakat di daerah Cirebon dan Indramayu, baik dalam aktivitas mendirikan rumah, aktivitas berkendaraan, penyelenggaraan hajat hidup (selamatan) dan lain-lain selalu diiringi dengan musik-musik yang akrab dengan mereka. Hal ini menandakan bagaimana musik pada tarling klasik Candra Kirana sudah tidak selaras dengan zamannya. Grup tarling Candra Kirana yang mempertahankan gaya tarling klasik hanya menjadi suatu kepercayaan segelintir seniman belaka tanpa respon positif masyarakat dewasa ini. Dengan demikian, komunikasi musikal yang dibangun dalam pertunjukan grup tarling Candra Kirana hanya mampu menawarkan nostalgia kaum tua dan tidak berarti ”apa-apa” bagi generasi muda. Hal ini terlihat dari pertunjukan yang dihadirkan pada Festival Pesisir, akhir Agustus 2007 yang lalu.

PENUTUP

Drama, tari, dan musik pada tarling Cirebon melalui perspektif komunikasi menunjukkan adanya aktifitas komunikasi yang dibangun oleh para pelakunya. Secara garis besar, komunikasi seni pertunjukan sangat erat dengan interpretasi makna yang tidak saja bersifat kultural, namun sosiologis dan filosofis. Makna merupakan kekuatan daya ungkap komunikasi seni pertunjukan yang menjelma dalam realitas pertunjukan drama, tari, dan musik. Ketiga unsur pokok pertunjukan tersebut seperti yang terjadi dalam seni pertunjukan tarling Cirebon membentuk bangunan komunikasi dramatik, kinetik, dan musik.

Bentuk komunikasi seni pertunjukan dalam pertunjukan tarling terdapat kekhasan pesan yang berbeda dengan pesan komunikasi biasa yang sifatnya verbal maupun non verbal. Sifat komunikasi seni pertunjukan sangat multiarah, multiperspektif, dan multipersepsi karena ia merupakan metakomunikasi dimana pesan dan maknanya didapatkan tergantung dari konteks ruang, waktu, dan peristiwa yang ditafsirkan oleh masing-masing individu.

Sekalipun lahir dari bentuk hiburan, namun kehadiran syair-syair tembang dan unsur dramatis dalam pertunjukan tarling memberikan kesan sebagai bentuk kreativitas masyarakat lingkungannya. Kesenian tarling kiranya dapat dimaknai sebagai bentuk pertunjukan yang memiliki fungsi informatif, komunikatif, dan edukatif terhadap peristiwa-peristiwa sosial dan budaya masyarakat lingkungannya.

Catatan Akhir

[1] Kiser Saidah Saeni, lagu yang menuturkan kisah kesengsaraan dua orang anak kakak beradik bernama Saidah dan Saeni yang dibuang oleh orang tuanya ke hutan adalah letak kekuatan yang mengundang rasa penasaran masyarakat apresiatornya yang begitu percaya bahwa legenda itu benar-benar pernah terjadi.

DAFTAR PUSTAKA

Griffim, EM

2006 A First look At Communication Theory. Sixth Edition. New York: McGraw Hill Companies

Herusatoto, Budiono

2003 Simbolisme dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: Hanindita Graha Widia.

Jaeni

2005 Komunikasi Seni Pertunjukan Teater Rakyat: Kajian Hermeneutika Makna Simbol Budaya dalam Pertunjukan Sandiwara Cirebon. Tesis S2. Bandung: Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran.

Leach, Edmund

1988 Culturre and Communication: The Logic By Which Simbols are Connected. New York: Cambridge University Press.

Liliweri, Alo

2003 Makna Budaya Dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: LKiS.

Littlejohn, Stephen W.

1996 Theories of Human Communication. Albuquerque, Ney Mexico: Wadsworth Publishing Company.

Miller, Katherine

2001 Communication Theories: Perspectives, Processes, and Contexts. United States of Amerika: The McGraw-Hill Companies.

Mulyana, Deddy

2002 Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: Rosdakarya.

Mulyana, Deddy dan Jalaludin Rakhmat

2000 Komunikasi Antarbudaya: Panduan berkomunikasi dengan orang-orang berbeda budaya. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Ritzer, George dan douglas J. Goodman

2005 Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prenada Media.

Soeprapto, H.R.Riyadi

2002 Interaksi Simbolik: Perspektif Sosiologi Modern. Yogyakarta: Pustaka Pelajar bekerjasama dengan Averroes Press.

Waridi dan Bambang Murtiyoso (ed)

2005 Seni Pertunjukan Indonesia: Menimbang Pendekatan Emic Nusantara. Surakarta: The Ford Foundation dan Program Pendidikan Pascasarjana STSI Surakarta.

West, Richard dan Lynn H. Turner

2007 Introducing Communication Theory: Analysis and Application. Third Edition. New York: McGraw-Hill Companies.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar